Wind Car Project, Inovasi STEAM S2 Dikdas Umsida

Dikdas.umsida.ac.id – Integrasi STEAM dalam pembelajaran sekolah dasar tidak harus selalu menggunakan teknologi mahal dan fasilitas kompleks.

Baca Juga: Mahasiswa S2 Pendidikan Dasar Umsida Raih Juara di Malaysia

Hal ini tergambar dalam kajian berjudul Wind Car Project to Integrate STEAM into the Elementary Education Curriculum yang ditulis oleh Debrina Budi Karenina dan Enik Setiyawati dari Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Artikel tersebut terbit dalam SIMELA: Edukasi dan Media Pembelajaran, Vol 1 No 1 tahun 2026.

Kajian ini membahas penerapan Wind Car Project atau proyek mobil tenaga angin sebagai strategi sederhana, kontekstual, dan hemat biaya untuk mengintegrasikan STEAM, yaitu Science, Technology, Engineering, Arts, dan Mathematics, dalam kurikulum kelas IV sekolah dasar.

Melalui proyek ini, siswa diajak membuat mobil bertenaga angin dengan memanfaatkan bahan sederhana seperti kardus, sedotan, dan tutup botol. Kegiatan tersebut tidak hanya mengenalkan konsep energi angin, gaya, dan gerak, tetapi juga melatih siswa untuk merancang, mencoba, mengevaluasi, dan memperbaiki hasil karya mereka.

STEAM Sederhana yang Dekat dengan Siswa

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus pada satu kelas IV sekolah dasar. Data dikumpulkan melalui observasi pembelajaran, analisis dokumen kurikulum dan modul STEAM, serta catatan reflektif guru.

Hasil kajian menunjukkan bahwa Wind Car Project mampu mengintegrasikan seluruh komponen STEAM secara utuh. Unsur sains muncul melalui pembahasan energi angin, tekanan udara, dan gaya dorong. Unsur teknologi tampak pada penggunaan alat sederhana dan penerapan prinsip teknologi ramah lingkungan.

Sementara itu, aspek engineering diterapkan melalui proses merancang dan merakit mobil tenaga angin. Unsur seni hadir melalui desain dan dekorasi produk agar lebih menarik. Adapun matematika digunakan saat siswa menghitung kecepatan mobil dengan rumus sederhana, yaitu kecepatan sama dengan jarak dibagi waktu.

Model pembelajaran ini menjadi penting karena masih banyak guru yang memandang STEAM sebagai pendekatan yang rumit, mahal, dan membutuhkan fasilitas khusus. Melalui proyek mobil angin, penelitian ini menunjukkan bahwa STEAM dapat diterapkan secara realistis di kelas dasar dengan bahan yang mudah ditemukan.

Latih Kolaborasi dan Pemecahan Masalah

Wind Car Project juga menggunakan tahapan Engineering Design Process atau EDP yang terdiri dari enam langkah, yaitu Ask, Imagine, Plan, Create, Test, dan Improve. Melalui tahapan tersebut, siswa tidak hanya diminta membuat produk, tetapi juga belajar memahami masalah, menyusun ide, merancang solusi, menguji hasil, dan memperbaiki kelemahan produk.

Proses ini mendorong siswa untuk aktif berdiskusi, bekerja sama dalam kelompok, serta berpikir kritis saat menghadapi kendala. Jika mobil tidak dapat bergerak dengan baik, siswa perlu mencari penyebabnya, mulai dari bentuk layar, posisi roda, hingga kekuatan dorongan angin.

Dengan demikian, pembelajaran tidak berhenti pada hafalan konsep. Siswa memperoleh pengalaman langsung tentang bagaimana pengetahuan sains dan matematika dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan nyata dalam bentuk proyek sederhana.

Bagi pendidikan dasar, pola seperti ini relevan karena anak usia sekolah dasar membutuhkan pengalaman belajar konkret. Mereka lebih mudah memahami konsep ketika dapat melihat, menyentuh, mencoba, dan memperbaiki sendiri hasil pekerjaannya.

Selaras dengan Kurikulum Merdeka

Kajian ini juga menegaskan bahwa Wind Car Project selaras dengan semangat Kurikulum Merdeka yang menekankan fleksibilitas, pembelajaran kontekstual, dan keberpusatan pada siswa. Proyek ini mendukung penerapan project-based learning karena siswa dilibatkan langsung dalam proses belajar yang menghasilkan karya nyata.

Bagi guru, proyek ini dinilai adaptif karena tidak menuntut perubahan besar pada struktur kurikulum. Guru dapat mengintegrasikannya ke dalam tema hemat energi dan menyesuaikan aktivitas dengan kondisi kelas masing-masing.

Temuan penelitian ini memberi kontribusi bagi pengembangan pembelajaran di pendidikan dasar, khususnya dalam merancang aktivitas STEAM yang murah, aplikatif, dan tetap bermakna. Inovasi seperti ini dapat menjadi inspirasi bagi guru, mahasiswa, dan praktisi pendidikan dasar untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih kreatif dan relevan dengan kebutuhan abad ke-21.

Baca Juga: Magister Manajemen Umsida Siapkan Pemimpin Entrepreneurial Berbasis Digital

Meski demikian, penelitian ini masih terbatas pada satu kelas IV sehingga implementasinya perlu dikaji lebih luas pada jenjang, sekolah, dan konteks daerah yang berbeda. Penelitian lanjutan juga dapat melihat dampaknya terhadap kemampuan berpikir kritis, literasi STEAM, serta kesadaran lingkungan siswa dalam jangka panjang.

Sumber:
Debrina Budi Karenina dan Enik Setiyawati. “Wind Car Project to Integrate STEAM into the Elementary Education Curriculum.” SIMELA: Edukasi dan Media Pembelajaran, Vol 1 No 1, 2026, hlm 75–79. Artikel diterbitkan pada 19 Januari 2026.