dikdas.umsida.ac.id – Tim peneliti Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) mengembangkan rekonstruksi model discovery learning berbasis karakter fathonah untuk memperkuat kemampuan bernalar kritis siswa sekolah dasar dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS).
Penelitian tersebut dilakukan oleh Supriyadi dan Enik Setiyawati dari Umsida bersama Tobroni dari Universitas Muhammadiyah Malang, Moncef Ben Abdeljelil dari University of Sousse Tunisia, serta Asyraf Isyraqi Bin Jamil dari University Malaya, Malaysia.
Hasil penelitian dipublikasikan dalam Berkala Ilmiah Pendidikan Volume 6 Nomor 1 pada Maret 2026 dengan judul Internalizing Fathonah Character in Critical Reasoning: A Case Study of Islamic Values Integration in Science and Social Studies.
Penelitian ini menempatkan karakter fathonah bukan sekadar sebagai kecerdasan intelektual, tetapi sebagai kemampuan berpikir yang disertai kebijaksanaan, kejujuran, ketelitian, dan tanggung jawab moral.
Menjawab Tantangan Informasi di Era Digital
Penelitian ini berangkat dari tantangan pendidikan dasar di tengah derasnya arus informasi yang belum tentu benar. Siswa tidak hanya membutuhkan kemampuan membaca, memahami, dan menganalisis informasi, tetapi juga kecakapan untuk memeriksa kebenaran informasi secara bertanggung jawab.
Kemampuan bernalar kritis menjadi semakin penting karena siswa sejak usia sekolah dasar telah berhadapan dengan berbagai informasi melalui internet, media sosial, maupun lingkungan pergaulan. Tanpa karakter yang kuat, kemampuan berpikir kritis berisiko hanya menghasilkan kecerdasan logis tanpa dibarengi kejujuran dan tanggung jawab.
Tim peneliti menilai pembelajaran IPAS memiliki potensi besar untuk mengintegrasikan kemampuan ilmiah dan nilai-nilai keislaman. Namun, praktik pembelajaran sains sering kali masih berfokus pada penguasaan materi dan prosedur eksperimen.
Karena itu, karakter fathonah diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran agar siswa tidak hanya mampu menemukan jawaban, tetapi juga memahami alasan, memeriksa data, serta mempertanggungjawabkan kesimpulan yang mereka buat.
Penelitian dilaksanakan di SDIT Alam Al-Uswah Pasuruan dengan melibatkan guru dan siswa kelas IV. Pendekatan yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan desain studi kasus.
Data dikumpulkan melalui observasi pembelajaran, wawancara semi-terstruktur, serta dokumentasi terhadap perangkat pembelajaran dan portofolio reflektif siswa. Analisis data dilakukan melalui proses kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
Rekonstruksi Tahapan Discovery Learning
Hasil penelitian menunjukkan bahwa internalisasi karakter fathonah dapat dilakukan dengan merekonstruksi setiap tahapan discovery learning. Proses pembelajaran tidak lagi dipandang sebagai rangkaian kegiatan kognitif yang bebas nilai, tetapi sebagai pengalaman belajar yang menghubungkan ilmu pengetahuan dengan tanggung jawab moral.
Tahap stimulasi direkonstruksi menjadi kegiatan tafakkur. Guru menghadirkan fenomena alam sebagai bahan pengamatan sekaligus mengajak siswa memahami bahwa alam merupakan ayat kauniyah atau tanda-tanda kebesaran Allah.
Pada tahap pengumpulan data, siswa dibiasakan menjalankan amanah ilmiah. Mereka harus memperoleh informasi secara objektif, jujur, dan tidak memanipulasi hasil pengamatan.
Selanjutnya, tahap pengolahan data dikembangkan melalui nilai itqan, yaitu ketelitian dan kesungguhan dalam menyelesaikan pekerjaan. Siswa didorong untuk memeriksa kembali perhitungan, menghindari kesalahan, dan memastikan hubungan antardata tetap logis.
Tahap verifikasi menjadi bagian paling penting dalam rekonstruksi tersebut. Proses pemeriksaan data tidak hanya dilakukan untuk menentukan benar atau salah secara teknis, tetapi juga diposisikan sebagai kegiatan tabayyun.
Melalui tabayyun, siswa dilatih memeriksa informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya. Kebiasaan tersebut dinilai relevan untuk membangun kemampuan menyaring berita bohong dan informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Tahap terakhir adalah generalisasi yang diarahkan pada perumusan hikmah. Siswa tidak hanya menyimpulkan hukum atau konsep ilmiah, tetapi juga memahami manfaat pengetahuan bagi kehidupan manusia, lingkungan, dan kepentingan bersama.
Membangun Ekosistem Karakter di Kelas
Penelitian ini juga menemukan bahwa integrasi karakter fathonah dapat membentuk ekosistem karakter dalam proses pembelajaran. Guru tidak hanya memberikan bantuan akademik, tetapi juga memberikan pendampingan nilai melalui kebiasaan menggunakan prinsip amanah, tabayyun, itqan, dan hikmah.
Pendampingan tersebut membuat proses berpikir siswa tidak berhenti pada pencapaian jawaban yang benar. Siswa dibiasakan mempertimbangkan kejujuran data, ketepatan proses, serta dampak dari kesimpulan yang dihasilkan.
Model tersebut disebut sebagai bentuk Prophetic Constructivism atau konstruktivisme profetik. Pengetahuan dibangun melalui interaksi dan pengalaman belajar, tetapi tetap diarahkan oleh nilai moral dan spiritual.
Secara praktis, hasil penelitian menawarkan prototipe pembelajaran yang tidak memisahkan kompetensi akademik dengan identitas keagamaan. Standar kemampuan sains dapat dikembangkan bersamaan dengan pembentukan integritas siswa.
Meski demikian, penelitian ini masih dilakukan pada satu sekolah dengan karakteristik sosial dan budaya yang relatif homogen. Karena itu, penelitian lanjutan diperlukan untuk menguji penerapan model tersebut pada sekolah dengan lingkungan, latar belakang siswa, dan karakteristik kelembagaan yang lebih beragam.
Sumber: Supriyadi, Enik Setiyawati, Tobroni, Moncef Ben Abdeljelil, dan Asyraf Isyraqi Bin Jamil. 2026. “Internalizing Fathonah Character in Critical Reasoning: A Case Study of Islamic Values Integration in Science and Social Studies.” Berkala Ilmiah Pendidikan, Volume 6 Nomor 1, Maret 2026, halaman 37–52.

