Peneliti Umsida Ungkap Strategi Guru Menanamkan Kepedulian Lingkungan Sejak SD

Dikdas.umsida.ac.id – Menanamkan kepedulian terhadap lingkungan sejak usia sekolah dasar tidak cukup hanya melalui penjelasan teori di dalam kelas. Anak-anak perlu mendapatkan pengalaman langsung agar mampu memahami pentingnya menjaga kelestarian alam dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: 4 Kepala Sekolah Muhammadiyah Surabaya Pilih Magister Pendidikan Dasar Umsida

Hal tersebut menjadi salah satu temuan penelitian yang dilakukan oleh Izzul Maghfiroh dan Enik Setiyawati dari Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) melalui penelitian berjudul Strategi Guru dalam Menguatkan Ekoliterasi Siswa di Sekolah Dasar.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Elementary School Volume 12 Nomor 2 pada Juli 2025 tersebut mengungkap berbagai strategi pembelajaran yang diterapkan guru untuk membangun kesadaran lingkungan atau ekoliterasi pada siswa sekolah dasar.

Melalui penelitian di SD Alam Al-Izzah, Krian, Sidoarjo, peneliti menemukan bahwa pembelajaran berbasis pengalaman langsung, eksplorasi lingkungan, dan kegiatan praktik menjadi pendekatan penting dalam menumbuhkan kepedulian siswa terhadap alam.

Pembelajaran di Alam Membantu Siswa Memahami Lingkungan

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus yang melibatkan dua guru kelas III, yakni kelas Wakatobi dan Karimunjawa di SD Alam Al-Izzah.

Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi untuk mengetahui bagaimana strategi pembelajaran diterapkan dalam menguatkan ekoliterasi siswa.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru tidak hanya menyampaikan materi mengenai lingkungan melalui buku pelajaran, tetapi juga mengajak siswa berinteraksi langsung dengan alam.

Strategi tersebut diwujudkan melalui kegiatan pembelajaran luar ruangan (outdoor learning), eksplorasi lingkungan sekitar, eksperimen sederhana, hingga diskusi kelompok mengenai persoalan lingkungan.

Dalam pelaksanaannya, guru menyusun pembelajaran melalui tiga tahapan, yakni pengenalan konsep dasar, observasi lingkungan, dan implementasi tindakan nyata.

Pada tahap awal, siswa diperkenalkan dengan konsep ekosistem, hubungan antarmakhluk hidup, serta pentingnya menjaga keseimbangan alam.

Selanjutnya, siswa diajak mengamati kondisi lingkungan sekolah, termasuk keanekaragaman hayati dan dampak aktivitas manusia terhadap alam.

Pembelajaran kemudian dilanjutkan melalui tindakan nyata, seperti menanam pohon, memilah sampah, dan membiasakan penghematan energi.

Pendekatan tersebut memungkinkan siswa tidak hanya memahami persoalan lingkungan secara konseptual, tetapi juga memperoleh pengalaman untuk menerapkan pengetahuannya.

Dari Menanam Bayam hingga Kampanye Hemat Energi

Salah satu temuan menarik dalam penelitian ini adalah penerapan kegiatan sederhana yang dekat dengan kehidupan siswa.

Guru kelas III, misalnya, mengajak siswa melakukan kegiatan menanam bayam secara berkelompok.

Dalam kegiatan tersebut, siswa tidak hanya belajar menanam, tetapi juga mengamati pertumbuhan tanaman dengan memperhatikan tinggi tanaman dan lebar daun hingga memasuki masa panen.

Melalui aktivitas tersebut, siswa memperoleh pengalaman langsung mengenai proses pertumbuhan tanaman sekaligus belajar bekerja sama dan bertanggung jawab.

Selain kegiatan berkebun, guru juga memberikan tugas praktik berupa kampanye hemat energi secara berkelompok.

Kegiatan ini menjadi sarana untuk menghubungkan pengetahuan mengenai penggunaan energi dengan tindakan yang dapat dilakukan siswa dalam kehidupan sehari-hari.

Penelitian tersebut juga menemukan adanya pembiasaan perilaku positif melalui program Bersih Rapi Tertata (BRT) dan kebiasaan membuang sampah pada tempatnya.

Sebagian besar siswa telah menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan, meskipun masih ditemukan beberapa siswa yang memerlukan penguatan kesadaran.

Temuan ini memperlihatkan bahwa pembentukan karakter peduli lingkungan membutuhkan proses pembiasaan yang dilakukan secara konsisten.

Guru Berperan Penting Membentuk Generasi Peduli Lingkungan

Penelitian Izzul Maghfiroh dan Enik Setiyawati menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan lingkungan tidak dapat dilepaskan dari kemampuan guru dalam merancang strategi pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa.

Guru perlu menghadirkan pembelajaran yang kontekstual dengan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar.

Selain itu, penggunaan media pembelajaran konkret, seperti tanaman, hewan, dan berbagai benda di sekitar sekolah, dapat membantu siswa memahami materi secara lebih mudah.

Pembelajaran kelompok juga menjadi strategi penting karena memungkinkan siswa saling bertukar pengetahuan, mengembangkan kemampuan berpikir kritis, dan bekerja sama menyelesaikan persoalan lingkungan.

Meski demikian, penelitian ini mengidentifikasi sejumlah tantangan, seperti perbedaan pemahaman siswa, keterbatasan fasilitas pembelajaran, dan kesulitan membangun kebiasaan peduli lingkungan secara berkelanjutan.

Oleh karena itu, diperlukan kreativitas guru dalam mengembangkan media dan metode pembelajaran yang sesuai dengan kondisi sekolah.

Hasil penelitian menyimpulkan bahwa strategi pembelajaran kontekstual melalui pengalaman langsung dengan alam dapat membantu meningkatkan pemahaman, empati, dan keterampilan siswa dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Temuan tersebut dapat menjadi referensi bagi guru sekolah dasar untuk mengintegrasikan pendidikan lingkungan dalam kegiatan pembelajaran.

Baca Juga: PLP 2 Umsida Buat Media Pembelajaran Spin Wheel untuk Siswa SD

Dengan demikian, sekolah tidak hanya menjadi tempat memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga ruang pembentukan karakter generasi yang memiliki kesadaran dan tanggung jawab terhadap keberlanjutan lingkungan.